Feed on
Tulisan
Komentar

new blog

THE END

Akhirnya, aku memutuskan menyudahi blog ini. Menutupnya dengan kisah terindah: berdua di Kinokuniya. Sebenarnya aku masih punya waktu 1 1/2 hari lagi di Jakarta. Tapi, sekali lagi temans, aku hanya ingin menyudahi catatan ini dengan yang terindah.

Dan sekali lagi aku berpikir untuk membuat blog baru. Tapi mungkin lebih impersonal. Sorry, girl, i cant write about “daily me” anymore. Dont worry, as u hope, i’ll go to the next level: developing blog as citizen journalism. Thus, I’m off for a while.

Thanks, guyz

TRAVELOG

POSTING PILIHAN

 

PUISI & LIRIK LAGU

  • Taufiq Ismail
  • Leigh Nash
  • Sapardi Djoko Damono
  • Sapardi Djoko Damono
  • Boyz II Men - The Color Of Love
  • Damien Rice - The Blower’s Daughter

20 Januari 2007, 2pm

Jakarta – berdua di Kinokuniya

Ini pasti bagian terbaiknya : kami & toko buku. Berdua saja. Kami berhasil menyingkirkan Debi, Didi dan si Mbak. Atau mungkin lebih tepatnya mereka berhasil menyingkirkan dirinya sendiri ?

Gadis itu mengajakku ke toko buku keren. Kinokuniya. Hmmm, namanya unik. Pasti menarik.

Lanjut Baca »

20 Januari 2007, 2pm

Jakarta – a tribute to Debi

 

Apalagi yang harus kukatakan tentangmu, Deb. Senyum pertamamu untukku adalah persahabatan hingga saat ini. Aku masih ingat betapa sulitnya beradaptasi dengan lawan jenis. Tapi pengertianmu membuatnya lebih mudah.

 

Aku tak tahu kenapa memilihmu menjadi teman pertamaku. Apakah sekedar senyum itu. Atau mungkin aku merasa kau sama denganku : berasal dari sekolah antah berantah. Naluriku mengenali aksen Inggrismu yang aneh itu.

 

Lanjut Baca »

20 Januari 2007, 10am

Jakarta – At the food court

 

Duduk berlima. Didi, aku, gadis itu ditengah, lalu Debi dan si Mbak. Sembari makan, ketemuan ini penuh gelak tawa. Sebenarnya Debi saja sudah cukup bikin meriah. Tapi si Mbak malah bikin tambah rame aja. Twin sisters kali yee. Gak beda-beda jauh. Sama konyolnya. Diam-diam aku menyesal juga ngajak Debi ketemuan sekalian dengan gadis itu. She & her friend hijacked all of our time !

 

Tapi gak juga. Sesekali perhatian tertuju pada gadis itu. Debi bicara dengannya. Dan ajaibnya, ia cukup tahu beberapa hal tentang gadis itu. Di tambah lagi cerita-cerita konyolnya tentang aku. Bikin gadis itu geleng-geleng kepala. Wah, kebongkar deh..

 

Sesekali aku bicara berdua dengan gadis itu. Dan menyebalkan, Debi ngeliatin sambil senyam senyum. Bikin gw grogi aja. Plz dech, we aren’t romantic, Deb. Not in front of you :p

Or not at all, girl ?

 

Dan Didi. Salah besar kalo ada temen di Ing yang bilang ia pintar tapi tidak cerdas. He’s more civilized now, hehehe.. Two thumbs up, for u, Didi.

Jakarta – menuju Blok M

20 Januari 2007, 0730am

Jakarta – menuju Blok M

 

Begitu gadis itu keluar dari kamarnya dan siap berangkat, ternyata ibunya lebih siap lagi untuk berangkat. Tapi bukan bersama kami. Beliau pergi duluan bersama kakak gadis itu serta menantunya. Akhirnya, hanya ada seorang pembantu dan kami berdua di rumah ini. Aku agak segan dengan keadaan rumah yang sepi ini. Tak berapa lama kemudian aku mengajaknya jalan.

 

Hmmm, menyenangkan. Seminggu yang lalu tak pernah terpikirkan olehku akan bertemu secepat ini. Dan sekarang, disini aku, berjalan berdua dengannya. Ke Blok M. Soalnya disamping aku ingin bertemu gadis ini, teman baikku Debi, ingin ketemu aku juga. Padahal aku hanya punya waktu sehari untuk mereka berdua. Besok, aku berniat jalan sendiri ke Glodok, Mangga Dua, Senen dan Kramat untuk akhirnya ke bandara.

 

Dan mungkin ini memang pertemuan yang sempurna. Hari ini, Minggu, langit tak begitu cerah. Berawan. Cuaca tak terlalu panas. Jalanan tak begitu macet. Jam 08.30 kami sampai di Blok M. Tapi aku lupa memperhitungkan bahwa pertokoan belum buka jam segini. It’s not my hometown and she forgot to tell me this circumstance.

 

Akhirnya, kami duduk di kursi-kursi di pelataran sebuh kedai kopi modern. Tak berapa lama kemudian Didi sampai di Blok M. Di tangannya tampak sebuah Koran Tempo terbitan hari ini. Ketika aku bercakap-cakap dengan si Didi, segera saja koran itu berpindah ke tangan gadis itu. Sesekali aku melirik ke arahnya. Aku jadi ingat salah satu fotonya yang berjudul “Watching & Listening.” Gadis itu dan koran. She’s reading. With style. Perfect !

 

Dan Debi belum juga datang. Waktu ku telpon ia menjawab dengan malas-malasan. She’s still stay in bed. Walah, it’s tipically her. Sulit tepat waktu. Ini aja janjiannya jam 8 ketemu disini dan udah syukur jam segini dia udah bangun. Tapi dia bilang mo ngasih waktu lebih lama lagi buat aku berdua dengan gadis itu. Alesan.

 

0930. Debi datang bersama seorang temannya. Not double date anymore. It’s 2 ½ date. J Let’s go to the food court.

Jakarta – Meet the Girl !

21 Januari 2007, 0630pm

Jakarta – Meet the Girl !

 

Butuh beberapa kali telpon-telponan dan lebih dari 20-an SMS untuk merencanakan pertemuan ini. Ini rencana terbaiknya: aku turun di Stasiun Jatinegara, lalu naik metromini ke rumah gadis itu. Lalu ketemu Debi dan Didi di Blok M. Double date !

 

Keretaku telat masuk Jakarta. Jam 6 pagi dan aku belum sholat Subuh. Turun dari kereta segera aku mencari mushala stasiun ini. Agak bingung juga. Letak mushalla cukup jauh dan terpisah dari bangunan stasiun. Tak terpikirkan olehku. Setelah shalat, aku mandi dan berganti pakaian. Kamar mandinya bersih dan terawat. Maklum, fasilitas publik yang berbayar, kondisinya sedikit lebih baik. Dan tak seperti stereotype tentang stasiun Jatinegara yang penuh preman, stasiun ini keliatan lebih nyaman ketimbang Senen.

 

Lanjut Baca »

Older Posts »